wartaline.com

Menyajikan Berita Lain, Baru Dan Terkini

Advertising

test

Breaking

Post Top Advertise

Your Ad Spot

Monday, June 7, 2021

Aturan Islam Dalam Jual Beli




 Islam adalah agama yang mengajarkan segala hal untuk kepentingan manusia sebagai khalifah di muka bumi, termasuk bagaimana manusia berjual beli yang baik dan benar sehingga tercipta kehidupan yang harmonis. Tujuan adanya aturan dalam jual beli dalam Islam adalah agar manusia dalam memenuhi kebutuhannya tidak seenaknya dengan mendzolimi manusia lainnya. Lantas seperti apa aturan jual beli dalam Islam?

Dalam bermuamalah (interaksi social) manusia tidak boleh saling mendzolimi satu sama lain. Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah melulu. Interaksi social antar manusia pun diatur baik oleh Islam. Islam mengatur bagaimana berekonomi dan berbisnis yang baik dan benar. Semua ini bertujuan agar tercipta harmonisasi antar manusia yang akan menciptakan kedamaian dunia. 

Sebelum mengetahui bagaimana Islam mengatur cara bertransaksi jual beli, alangkah baiknya kita mengenal dahulu pengertian jual beli dalam Fiqih Islam. Imam Taqiyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Alhusaini dalam Kitab Kifayatul Akhyar menjelaskan pengertian jual beli. 

البيع فِي اللُّغَة إِعْطَاء شَيْء فِي مُقَابلَة شَيْء

Jual beli menurut bahasa adalah memberikan sesuatu dengan imbalan sesuatu 


وَفِي الشَّرْع مُقَابلَة مَال بِمَال قابلين للتَّصَرُّف بِإِيجَاب وَقبُول على الْوَجْه الْمَأْذُون فِيهِ

Sedangkan menurut istilah syara’ jual beli adalah serah terima harta yang bisa dikelola dengan adanya ijab qobul terhadap sesuatu yang dizinkan syariat.


Lantas adakah dalil Al-qur’an dan Hadits tentang jual beli?

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 275 : 

وَأحل الله البيع وَحرم الرِّبَا

Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan megharamkan riba (QS: Al-Baqarah : 275)

 

Di antara Hadits Rasulullah SAW yaitu sabda Beliau :

البيعان بِالْخِيَارِ

Dua orang yang berjual beli memiliki hak khiyar (memilih diteruskan atau tidaknya jualbeli mereka)


Dalam jual beli harus memenuhi rukun jual beli yaitu harus adanya ‘Aqid (orang yang melakukan akad) yaitu penjual dan pembeli, harus ada Sighat yaitu Ijab (penawaran) dan qobul (penerimaan), dan Ma’qud ‘Alaihi (barang yang diakad). 


Untuk ‘Aqid (penjual dan pembeli) memiliki syarat yang harus terpenuhi yaitu hendaknya yang ‘Aqid (penjual dan pembeli) termasuk orang yang paham berjualbeli. Tidak sah jual beli yang dilakukan oleh anak kecil, orang gila, dan orang yang tidak mengerti tentang uang. 

Penjual dan pembeli juga disyaratkan harus mempunyai hak khiyar (pilihan). Tidak sah jual beli yang dilakukan secara terpaksa kecuali pemaksaan yang dibenarkan syariat. Misalnya penjual wajib menjual barangnya untuk melunasi hutangnya.

Adapun sighat (ijab qobul) yaitu ucapan penjual kepada pembeli : seperti  بِعْتُ (aku jual) dan pembeli menjawab قَبِلْتُ أَو ابْتَعْتُ  (aku terima atau aku beli).

Andaikan tidak ada ijab qobul dalam ucapan, tetapi cukup hanya mengulurkan barang dan uang sebagaimana yang menjadi kebiasaan di masyarakat, apakah sah jual belinya?

Menurut kitab Ar-Raudhah tidak sah karena tidak ada sighat. Sedangkan Ibnu Suraij sebagaimana dikutib dalam kitab Kifayatul Akhyar, mengatakan bahwa jualbeli dengan cara saling mengulurkan barang dan uang hukumnya sah. Imam Ar-Ruyani berpendapat bahwa sah jual beli dengan saling mengulurkan barang dan uang tanpa sighat untuk barang yang tidak berharga. 

Menurut imam Malik Rahimahullah, menjual suatu barang dengan cara yang dianggap menjual oleh kalangan masyarakat, hukumnya sah. 

Lantas bagaimana jual beli yang dilakukan di swalayan atau mini market, dimana tidak ada sighat ataupun serah terima barang dan uang secara langsung?

By Ustadz Abdullah, M.Pd

  

No comments:

Post a Comment

Promotion

Your Ad Spot

Pages